LANDAK — “Beliau punya keterbatasan tapi tidak menyerah. Jadi, Ibu Bapak yang punya tanah di sini, jangan kalah semangatnya dengan Pak Supin. Kami akan dukung semaksimal mungkin.”

Pesan itu disampaikan Bupati Landak Karolin Margret Natasa saat menghadiri tanam perdana padi di lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025 Kelompok Tani Semata Tani Andalan, Desa Temiang Sawi, Kecamatan Ngabang, Rabu (8/4/2026). Di tengah agenda yang semula berupa seremoni tanam, nama Nikolaus Supin justru mencuat sebagai sosok yang paling banyak disebut.

Supin bukan sekadar ketua kelompok tani. Ia adalah petani penyandang disabilitas yang tetap berdiri di garis depan, menggerakkan petani, mengurus rapat, membawa alat, hingga memastikan lahan yang sudah dicetak tidak berhenti sebagai proyek di atas kertas.

Acara dilaksanakan di lahan Nikolaus Supin, Beguruh, Dusun Semata, Desa Temiang Sawi, mulai pukul 09.30 WIB, dengan agenda utama tanam perdana padi lokasi CSR Tahun 2025 oleh Bupati Landak.

Di hadapan para petani dan pejabat yang hadir, Karolin menegaskan bahwa program pertanian tak akan berjalan hanya dengan dukungan anggaran dan tenaga teknis. Menurut dia, keberhasilan di lapangan tetap bergantung pada orang-orang yang mau bekerja dan bertahan menghadapi keterbatasan.

“Saya mengenal Pak Supin sudah lama dan mengagumi semangatnya berkarya untuk kampung, gereja, dan masyarakat,” kata Karolin.

Dari penuturan Supin, lahan yang kini ditanami itu bukan lahan yang datang dengan mudah. Ia menyebut hampir 10 kali rapat dibiayainya sendiri. Alsintan juga ia bawa dengan ongkos pribadi agar petani tidak terbebani. Bahkan untuk konsumsi kegiatan, warga disebut urunan Rp 50.000 per kepala keluarga.

“Rapat hampir 10 kali saya biayai sendiri. Alat-alat alsintan saya bawa sendiri dengan biaya pribadi, tidak membebani petani,” ujar Supin.

Supin juga mengungkapkan, dirinya penyandang disabilitas akibat kecelakaan tertimpa pohon saat duduk di bangku kelas 2 SMP pada usia 14 tahun.

Namun, pengalaman itu tidak menghentikannya untuk bekerja. Ia mengaku masih sanggup mengoperasikan alat berat, membawa truk, dan bolak-balik dari rumahnya di Ngabang ke lahan pertanian yang sedang dibangun.

“Saya ini penyandang disabilitas. Saat kelas 2 SMP, umur 14 tahun, saya mengalami kecelakaan tertimpa pohon. Tapi itu tidak mengurangi niat saya untuk bangkit,” kata dia.

Baginya, sawah di Temiang Sawi bukan hanya soal tanam perdana, tetapi soal masa depan kampung. Ia optimistis hamparan 16 hektare yang mulai digarap itu dapat berkembang menjadi sumber produksi pangan baru. Supin bahkan menghitung lahan tersebut berpotensi menghasilkan hingga 100 ton per musim bila dikelola serius.

“Puji Tuhan, lahan ini saya kerjakan dari jam 6 pagi. Saya istirahat sebentar, lalu turun lagi jam 2 siang sampai malam. Rumah saya ada di Ngabang, tapi saya bolak-balik ke sini,” ucap Supin.

Karolin menilai semangat itu harus diikuti dengan kerja yang tertib dan terukur. Ia mengingatkan bahwa sawah tidak akan berhasil tanpa dukungan air dan tata kelola lahan yang baik.

“Sawah itu harus ada air, airnya harus bisa diatur. Kalau enggak bisa diatur, pasti panennya gagal,” ujar Karolin.

Ia juga meminta pemerintah desa dan kecamatan mendata ulang kelompok tani agar bantuan benar-benar jatuh kepada kelompok yang aktif. Menurut dia, validasi perlu dilakukan supaya alat dan dukungan pemerintah tidak salah sasaran.

“Tolong didata mana kelompok tani yang masih aktif dan mana yang tidak. Kalau ada yang perlu digabung supaya lebih efektif, silakan digabung,” kata Karolin.

Selain itu, Karolin mendorong petani mulai rajin mendokumentasikan kondisi lahan, mulai dari tinggi air saat hujan hingga titik yang rawan kering. Catatan lapangan itu, menurut dia, penting agar tenaga teknis tidak bekerja berdasarkan perkiraan semata.

Supin sendiri mengakui masih ada kebutuhan mendesak di lapangan, terutama jembatan untuk mobilisasi alat, irigasi, dan pintu air. Namun di tengah keterbatasan itu, ia memilih terus bergerak. Bagi dia, lahan yang sudah diterima petani harus segera dikerjakan, bukan dibiarkan menunggu terlalu lama.

Karolin lalu menutup arahannya. Ia mengatakan, pembangunan pertanian di kampung tidak akan pernah maju bila orang-orang yang sehat justru kalah tekad dari mereka yang hidup dengan keterbatasan.

“Beliau punya keterbatasan tapi tidak menyerah. Jadi, Ibu Bapak yang punya tanah di sini, jangan kalah semangatnya dengan Pak Supin,” tutup Karolin (RED).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini