
SUMATRA UTARA- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Labuhanbatu Selatan menggelar acara ngobrol Pendidikan Islam yang dilaksanakan di aula Gran Suma Kotapinang, Selasa (23/08/2022).
Kegiatan tersebut mendatangkan narasumber tokoh nasional, anggota DPR RI, Wakil Ketua Komisi IIIV, Marwan Sasopang, Ketua PC NU Labusel dan para guru agama serta pimpinan pondok pesantren.
Ketua penitia ngobrol pendidikan Islam Mirhan Astar dalam laporannya menyampaikan terima kasih kepada Kakan Kemenag Labusel yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.
“Segenap penitia mengucapkan selamat datang pada bapak Anggota DPR RI, Wakil Ketua Komisi IIIV Marwan Dasopan yang juga sebagai narasumber diacara ini begitu juga pada Ketua PC NU Labusel kiyai H Makmur Ismail Harahap dan Aziddin Harahap juga sebagai narasumber,” papar Mirhan Astar.
Mirhan Astar menambahkan adapun kegiatan ngobrol pendidikan Islam ini lakukan guna menimba ilmu pemahaman sebagai pendidik.
“Kita tetap mengacu dengan UU No 23 dan UU No 63 Tentang pendidikan nasional dengan penuh harapan agar bapak Kakan kamenag membuka acara ini nanti,” sambung Mirhan Astar.
Sementara itu, Kakan Kamenag Labusel Awaluddin Habibi Siregar dalam sambutannya sangat berterimakasih kepada Anggota DPR RI dari komisi IIIV dari Fraksi PKB H Marwan Dasopang yang juga sebagai pemateri tentang pendidikan agama yang telah menyempatkan hadir dalam kegiatan tersebut.
“Jadi para guru juga pimpinan ponpes para mahasiswa dan para generasi muda agar dapat memahami apa yang disampaikan pemateri nantinya karena pendidikan Islam ini sangat penting ditanamkan pada masarakat apa keluhan dan kendala perlu bapak ibu sampaikan nanti pada Anggota DPR RI yang hadir di acara ini,” papar Awaluddin Habibi Siregar.
Disisi lainnya, Anggota DPR RI Marwan Dasopang dalam pemaparannya mengatakan bahwa pendidikan Islam sangat penting untuk menanamkan mental anak-anak agar kita semua tau sejarah bangsa ini para ulama jauh sebelum ada Indonesia Indonesia ada setelah kemerdekaan 1945 TNI belum ada sebelum penjajahan Islam sudah ada sejak tahun 1500.
“Maka kala itu nama negara ini baru bernama tanah Nusantara belum Indonesia maka ulama ulama dulu sudah mendirikan pesantren yang kegunaannya menanamkan nasionalisme untuk kemerdekaan bangsa ini maka para ulamalah yang datang dari pesantren yang memerdekakan negara ini. Contohnya ketika habis perang dunia ke dua setelah Jepang angkat kaki semua daerah udah dikuasai Belanda kecuali Surabaya maka bung Karno sebagai Presiden mengirim surat pada Kiyai Hasim asari pendiri NU Bungkarni meminta petunjuk,” paparnya
Maka lanjut Marwan, Hasim Asari mengumpul semua ulama se Surabaya untuk istiqosah minta petunjuk pada alah SWT dari istiqosah itu lah keluar patwa resolusi jihad 22 Oktober dari itulah tibul dan angkut sangat erek-erek surubiyo agar berperang menghadapi sekutu apa bila Surabaya dapat dikuasai niscaya sekutu akan angkat kaki karena kepala sekutu ada di Surabaya maka semua santri para ulama turun melawan sekutu
“Jadi pendidikan Islam orang orang anak santrilah yang merebut kemerdekaan ini tapi sejarah itu di lupakan resulusi jihat itu di hilangkan maka sejak NKRI merdeka resolusi jihat 22 Nopember itu hilang sehingga lebih mengutamakan sekolah umum pesantren juga hidup mati jadi sejak 1845 pesantren hilang timbul maka setelah 2015 semalam Kuta di Komusi IIIV berjuang sehingga keluarlah hari santri 2018 dan UU Pesantren no 18 Tahun 2019. Maka kita perjuangkan juga keluar Pepres 82 THN 2021, ini harus ditarapkan di daerah agar pesantren mendapat bantuan dari pemerintah daerah,” pungkasnya (Mirwan Hasibuan).





















