LANDAK– Wakil Bupati Landak, Erani, angkat bicara terkait video viral yang memperlihatkan dirinya beradu argumen dengan sejumlah karyawan PT SMS. Dalam klarifikasinya, Erani menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi di luar agenda resmi mediasi dan video yang beredar tidak menampilkan kronologi secara utuh.

Menurut Erani, kedatangannya ke lokasi perusahaan merupakan undangan resmi dari pihak PT SMS untuk menghadiri mediasi terkait polemik di PKS (Pabrik Kelapa Sawit).

“Saya datang karena diundang. Ini mediasi yang ke-16 kalinya. Sebelumnya sudah ada 15 kali mediasi di tingkat desa, kecamatan, polsek, bahkan secara pribadi,” ujar Erani saat dikonfirmasi awak media diruang kerjanya, Rabu (18/02/2026).

Erani menjelaskan, ia hadir bersama Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Perkebunan, Kapolsek, perwakilan desa, serta unsur kecamatan. Undangan rapat dijadwalkan pukul 10.00 WIB.

Namun hingga pukul 13.30 WIB, perwakilan karyawan yang keberatan terhadap manajer baru perusahaan belum juga hadir.

“Kami bahkan mengutus orang untuk memanggil mereka. Jawabannya, mereka tidak bisa datang dan meminta saya serta rombongan datang ke PKS. Padahal tempat dan waktu rapat sudah jelas dalam undangan,” jelasnya.

Rapat tetap dilaksanakan dengan mendengarkan laporan hasil 15 kali mediasi sebelumnya. Setelah agenda selesai dan dilakukan dokumentasi, Erani bersiap kembali ke Pontianak.

Saat hendak meninggalkan lokasi, rombongan Erani berpapasan dengan sekelompok orang yang disebutnya sebagai karyawan pabrik.

“Saya ditahan baik-baik, tidak ada ancaman. Mereka bilang mau rapat. Saya jawab rapat sudah selesai, kenapa tidak datang dari tadi,” katanya.

Dalam percakapan tersebut, suasana sempat memanas ketika para karyawan menyatakan keberatan terhadap manajer baru dan menolak segala risiko atas kehadirannya. Erani menegaskan dirinya tidak membela pihak mana pun.

“Saya tidak membela siapa-siapa. Saya ingin menegakkan kebenaran. Saya datang sebagai pemerintah untuk memfasilitasi. Bahkan saya juga pemilik lahan di sini. Kalau pabrik berhenti, saya juga dirugikan,” tegasnya.

Terkait video viral yang beredar luas di media sosial, Erani menyayangkan potongan rekaman yang hanya menampilkan bagian emosional dari percakapan tersebut.

“Videonya dipotong. Yang marah-marah saja yang ditampilkan, tidak ada awal dan akhirnya. Seolah-olah saya membela perusahaan dan menindas orang lemah. Itu tidak benar,” ujarnya.

Ia juga menyebut tidak mengenal secara pribadi pihak-pihak yang berhadapan dengannya di jalan tersebut.

Erani mengingatkan bahwa polemik yang berkepanjangan dapat berdampak luas terhadap perekonomian masyarakat. Ia menyebut sekitar 3.500 orang bekerja di lingkungan perusahaan (SMS dan MAK), dengan perputaran dana mencapai lebih dari Rp2,3 miliar setiap bulan.

“Kalau perusahaan tutup, bagaimana nasib mereka? Itu yang harus kita pikirkan. Semua bisa dibicarakan, jangan langsung menolak,” katanya.

Dalam klarifikasinya, Erani menegaskan bahwa kehadirannya murni untuk memfasilitasi penyelesaian konflik agar sanksi terakhir dari pihak kebun tidak perlu diberlakukan.

“Justru saya datang supaya ada solusi. Jangan sanksi langsung dijalankan kalau masih bisa diperbaiki. Pemerintah hadir untuk mediasi, bukan membela siapa pun,” pungkasnya.

Dengan adanya klarifikasi ini, Erani berharap masyarakat dapat memahami konteks sebenarnya dari video yang beredar dan tidak terpancing oleh potongan informasi yang tidak utuh (SABAT).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini