LANDAK – Lukman (45) tak datang dengan harapan besar saat menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Kabupaten Landak.
Warga Kuala Behe itu hanya ingin ikut merayakan, berkumpul dengan sesama pekerja, dan menikmati suasana di luar rutinitas kebun.
Di tengah keramaian, ia berdiri seperti peserta lainnya. Hingga pengundian doorprize dimulai dan suasana berubah tegang, terutama saat hadiah utama diumumkan, satu unit rumah subsidi.
Ketika nomor undian yang ia pegang disebutkan, Lukman sempat terdiam. Ia memastikan kembali sebelum melangkah ke depan, disambut sorak rekan-rekannya.
“Saya sangat senang sekali mendapat apa yang diberikan ini. Saya akan memanfaatkannya sebaik-baiknya,” ujarnya singkat, Jumat (1/5/2026).
Lukman yang pernah bekerja di PT HPI Agro sejak 2010. Di perusahaan perkebunan kelapa sawit itu, ia menjalani peran sebagai mandor, mengawasi pekerjaan di lapangan sekaligus memastikan aktivitas berjalan sesuai target.
Rutinitasnya nyaris tak berubah dari hari ke hari. Pagi berangkat ke kebun, sore kembali ke rumah yang sudah ia miliki bersama keluarganya di Kuala Behe.
Karena itu, rumah subsidi yang ia dapatkan bukan kebutuhan mendesak, melainkan tambahan yang tak pernah ia rencanakan. Sebuah keberuntungan yang membuka kemungkinan baru bagi dirinya.
Ia mengaku belum menentukan akan digunakan seperti apa. Namun, hadiah tersebut menjadi peluang, baik untuk keluarga maupun rencana jangka panjang.
Sementara itu, Bupati Landak, Karolin Margret Natasa menyampaikan, pemberian rumah subsidi merupakan bagian dari dukungan terhadap program perumahan nasional.
Karolin mengatakan, Pemkab akan menindaklanjuti langkah ini dengan pembahasan bersama serikat pekerja dan BPJS Ketenagakerjaan untuk mencari skema konkret pelaksanaannya.
Karolin menyebut pemberian hadiah ini sebagai penanda awal keseriusan pemerintah dalam mendukung akses perumahan bagi pekerja.
“Anggaplah hari ini kita launching ya, tanda bahwa kita punya keseriusan,” tutur Karolin.
Di tengah perayaan May Day, kisah Lukman menjadi satu potret sederhana. Ia datang tanpa ekspektasi, namun pulang dengan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Bukan karena ia belum memiliki rumah, tetapi karena kini ia memiliki pilihan baru, yang mungkin akan menentukan langkahnya ke depan (SABAT).



















