LANDAK – Salah satu pengusaha jamur tiram, di Dusun Binjai, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak Randy Daren mengeluhkan penurunan omzet usaha jamur tiramnya sejak beberapa waktu terakhir.

Randy mengatakan, penurunan omzet penjualan jamur tiram yang telah dirintis dari usaha turun temurun keluarganya sejak Tahun 2010 lalu ini, dipengaruhi adanya kasus dugaan keracunan jamur yang menewaskan sepasang suami- istri yang terjadi di Desa Pahokng, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak pada Jum’at (23/08) lalu akibat mengkonsumsi jamur yang diperoleh dari kebun milik korban di daerah Payo Marit dekat rumah kediaman korban.

“Dampak yang paling berasa itu dipenjualannya, jadi orang berfikir bahwa jamur yang kami budidayakan ini sama jenisnya dengan jamur yang beracun itu,” jelas Randy kepada awak media Rabu (04/09/2024).

Randy menuturkan, sejak kejadian tersebut penurunan penjualan dari usaha jamur tiram miliknya anjolok sekitar 30 hingga 60 kilogram, Dimana normalnya ia bisa menjual sebanyak 50 hingga 60 kilogram perharinya.

“Sejak kejadian dugaan keracunan jamur tersebut, penjualan kita tidak bisa tembus segitu, karena orang khawatir kalau makan jamur tiram ini akan terdampak seperti itu juga. Padahal jenis jamur yang kami tanam itu berbeda, kalau yang beracun itu kita tidak tahu dari tanah dia berasalnya entah dia terkena pestisida atau obat-obat tanaman yang berbahaya bagi tubuh manusia,” sambung Randy.

Randy menambahkan untuk budidaya jamur tiram sendiri telah melalui serangkaian proses sterilisasi, karna itu dirinya menjamin jamur tiram hasil budidayanya aman untuk dikonsumsi.

“Untuk pemasaran kita ada di Sosok, daerah Ngabang, Jelimpo, Kase dan lingkupan Kabupaten Landak,” jelasnya.

Untuk harga jual jamur tiram hasil budidayanya tersebut, dikatakan Randy dijual dengan kisaran harga Rp. 35.000 perkilogram. Dimana saat ini dirinya terus melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa jamur tiram hasil budidaya tersebut aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

“Ciri untuk membedakan jamur tiram dengan jamur lainnya, dilihat dari cara tumbuhnya. Tidak semua jamur tanah itu beracun, ada juga yang baik untuk dikonsumsi. Tapi untuk jamur yang sudah ada di pasaran, kita lihat secara umum saja kalau dia sudah dijual dipasar bearti itu sudah layak dikonsumsi. Kalau kita cari ditanah bisa saja untuk dikonsumsi hanya kita harus pergi ke orang yang berpengalaman kita tanya informasi apakah jamur itu layak atau tidak untuk dimakan,” jelasnya.

Dirinya mengatakan, akibat kejadian adanya dugaan keracunan warga pasca mengkonsumsi jamur beberapa waktu lalu kerugian yang dialami dirinya saat ini cukup lumayan dikisaran 30 persen dari biasanya sejak dua minggu belakangan ini.

“Untuk omzet kita bisa Rp. 10jutan bersihnya perbulan, saat ini menurun sekitar 30 sampai 40 persen,” pungkasnya (SABAT).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini