Staf Ahli Bupati bidang Kemasyarakatan dan SDM Maryadi Asmu'ie mengajak masyarakat Ketapang terus lestarikan Budaya Robo-Robo

KETAPANG- Masyarakat di Tepian Sungai Pawan, Kelurahn Kauman, Kabupaten Ketapang menggelar budaya Robo-Robo yang dilaksanakan Rabu (21/09/2022).

Bupati Ketapang Martin Rantan yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Maryadi Asmu’ie dalam sambutannya menyampaikan perayaan Robo-Robo ini sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat Kabupaten Ketapang, karena acara ini bukan hanya sekedar pelestarian budaya namun juga sebagai perwujudan rasa syukur.

“Perayaan Robok-Robok ini bukan hanya sekedar pelestarian nilai adat budaya dengan pembacaan do’a dan makan bersama, melainkan juga sebagai bentuk rasa syukur atas segala limpahan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya saat menyampaikan Sambutan tertulis Bupati Ketapang.

Dirinua juga mengajak masyarakat Kabupaten Ketapang untuk melestarikan kebudayaan Robok-Robok untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal dan meningkatkan kepedulian kepada sesama dan kecintaan kebudayaan di Kabupaten Ketapang.

“Semoga budaya Robok-Robok dapat tetap dilestarikan dan semoga Kabupaten Ketapang dan kita semua terlindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari bala dan bencana,”sambungnya.

Sementara itu, Lurah Kauman Sabran mengatakan, budaya Robok-Robok ini akan dilaksanakan selama 3 hari dimulai tanggal 22 hingga tanggal 24 September 2022. Selain ritual, dalam acara ini juga diadakan lomba seperti syair gulung, berbalas pantun, dendang melayu, hias kato dan lomba-lomba lainnya.

“Untuk masyarakat diperkirakan 3000 orang yang datang dan dihadiri oleh pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya, penggiat seni dan undangan-undangan lain,” tutupnya.

Untuk diketahui pada sejarahnya kegiatan Robo-Robo ini merupakan acara mengenang kembali Opu Daeng Manambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara bersama istri nya Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun dari Kerajaan Matan Kabupaten Ketapang beserta 40 rombongan perahu berlayar bersama ke Kerajaan Mempawah di Kabupaten Mempawah pada tahun 1737 M/1448 H.

Selanjutnya pada saat sampai di tepian sungai Mempawah Opu Daeng Manabon membagikan seluruh bekal makanannya kepada warga, sembari mengumandangkan Adzan dan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan dan dijauhkan dari balak. Karena pada hari itu perhitungan hari hijriah jatuh pada hari rabu, pekan terakhir bulan Safar.

Para ulama juga menyebutkan bahwa pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan lebih dari 500 macam penyakit.

Sehingga momentum sejarah itu terus di peringati masyarakat Kabupaten Ketapang bahkan Kalimantan Barat dengan sebuah upacara atau ritual doa tolak bala, mandi syafar, makan ketupat colet dan ritual-ritual lainnya yang dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya di Kabupaten Ketapang (Darul).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini